3 Ulama Terkemuka Jebolan Timur Tengah

Jejak peradaban islam dari awal kemunculan hingga sekarang tidak akan terlepas dari perjuangan para ulama yang membumikannya. Penyebaran ajaran islam yang hanya satu titik meluas hingga pelosok dunia, menjadi cerminan tentang kegigihan dakwah yang para ulama. 

Sejarah peradaban islam pun mencatat penyebaran ajaran islam ke pelosok dunia dari generasi ke generasi sampai sekarang. Dari peradaban inilah muncul fan-fan keilmuan islam yang beragam, yang mencakup seputar fiqih, hadist, tafsir, nahwu, dan lain sebagainya yang menjadi bukti jayanya keilmuan islam pada masa lalu.

Dari peradaban ini juga lahir figur-figur yang menghiasi khazanah keilmuan sekaligus menjadi penyambung sanad keilmuan yang muttashil sampai ke Rasullah Saw.

Para tokoh ini terbagi dalam beberapa generasi. Mulai dari ulama salaf, khalaf, dan ulama yang hidup pada era sekarang, yang biasa disebut ulama kontemporer.

Pada perkembangan penyebaran islam muncul karya-karya ulama yang membahas berbagai fan dalam ajaran islam. Karya-karya ini menjaga keotentitak ajaran islam dari campuran pemahaman yang menyimpang dan menjadi rujukan kita menentukan sebuah hukum Karena memang kadar keilmuannya yang tidak diragukan lagi.

Pada masa sekarangpun ulama-ulama tetap produktif meghasilkan karya sekelas ulama tempo dulu dengan pembahasan masalah kekinian dan tanpa mengubah pola penalaran ulama salaf. Semakin maju dan luasnya keilmuan islam maka banyak pula aliran dan pemikiran yang menyimpang dari paham salaf khususnya ahlussunah. 

Syekh Said Ramadhan Al-Buthi

Syekh Said Ramadhan Al-Buthi salah satu ulama kontemporer yang memiliki pengaruh besar memiliki perbedaan dengan para pemikir islam pada umumnya, terutama dalam hal hukum islam berupa potong tangan, qishos, dan rajam yang dianggap sudah tidak relevan lagi. Alasan para pemikir islam menganggap hukum islam sudah tidak relevan lagi, menurut beliau tidak dapat dibenarkan. 

Dalam pandangan Syekh Said alasan tidak relevan itu muncul dari dua faktor.

Pertama, kondisi kejiwaan (psikologi) yang cenderung beranggapan bahwa sesuatu yang lampau itu kuno dan tidak patut dipertahankan. Kedua, adanya anggapan bahwa pidana islam itu bengis, kejam, dan melanggar HAM, dan tidak sesuai dengan nilai kemanusiaan abad 20. 

Menurut pemikiran Syekh Said Romadhon Al-Buthi penilaian bahwa hukum islam itu bengis, kejam, dan melanggar HAM merupakan penilaian  yang bersumber dari kesimpulan yang gegabah. Mereka memiliki pandangan yang demikian itu hanya melihat hukum pidana islam dari satu sisi saja. Yaitu sisi pemotongan tangan atau pelemparan batu rajam tanpa melihat sisi yang lain seperti terjaganya maqoshid asy-syar’I sehingga keamanan dan ketentraman dapat terwujud.

Syeikh Wahbah Az-Zuhaili

Selain karena itu, Syeikh Wahbah Az-Zuhaili menulis tafsir Al-Munir dilatar belakangi karena adanya tanggapan bahwa tafsir klasik tidak mampu memberi solusi problematika kontemporer, sedangkan para mufassir kontemporer banyak melakukan penyimpangan interpretasi pada ayat al-Quran dengan dalih pembaruan.

Ulama kontemporer juga dihadapkan pada problematika masyarakat yang semakin beragam sesuai kemajuan zaman. Para ulama dituntut mampu untuk memberi pencerahan pada persoalan yang dihadapi umat dan memecahkannya.

Karena pada saat ini umat islam sangat membutuhkan solusi-solusi problematika keagamaan sesuai zaman. Kebanyakan ulama hanya fokus pada hukum yang ada di kitab klasik dan sangat jarang yang mampu berijtihad melahirkan hukum baru sesuai dengan tuntutan zaman, sedangkan masa dan umat terus berkembang. 

Dr. Yusuf Qardawi

Di antara ulama kontemporer berijtihad adalah Dr. Yusuf Qardawi.

Dr. Yusuf Qardawi memberi tanggapan hukum pada problematika kekinian berupa euthanasia atau biasa disebut tindakan memudahkan kematian pasien. Menurut beliau tindakan euthanasia mempunyai dua macam yaitu positif dan negatif. Beliau mempunyai pandangan tentang hukum euthanasia sama seperti tindakan membunuh secara terencana dengan melihat berbagai aspek. Ketika euthanasia dianggap sebagai pembunuhan maka ahli waris yang meminta dokter untuk melakukannya, baik karena iba atau yang lainnya maka secara otomatis akan termahjub dari daftar orang yang menerima waris. Begitulah tanggapan al-Qardawi tentang euthanasia

Bagi Anda yang hendak meneladani 3 sosok ulama tersebut, Anda bisa berkuliah di timur tengah. Namun, bagi Anda yang ingin menempuh jalan beasiswa, Anda dapat melihat artikel Studi ke Timur Tengah. Di sana diterangkan dengan lengkap perihal cara untuk dapat kuliah di sana dengan beasiswa, dengan mengikuti bimbingan beasiswa di Schoters.