7 Poin Penting Cara Menghafal al-Qur'an yang Tidak Boleh Terlewat!

Allah memberi mu’jizat yang begitu istimewa kepada Nabi Muhammad, yakni Al-Qur’an. Begitu pula Allah memberi karunia kepada kita otak yang memiliki jutaan sel saraf yang mampu menyampaikan menyimpan memori melebihi kecepatan pesawat. Mari kita manfaatkan fasilitas yang diberikan Allah ini dengan menyimpan ayat-ayat nya yang mulia. Berikut penulis jelenterehkan 7 kiat mudah menghafal kalam ilahi

  1. Gunakan satu mushaf

    Sebelum menghafal tentu kita harus memiliki sebuah mushaf Al-Qur’an. Nasihat dari beberapa guru tahfidz, hendaknya menggunakan satu mushaf khusus untuk menghafal. Seperti mushaf yang dimulai dengan ayat dan diakhiri dengan ayat, agar hafalannya tidak terpotong. Ketika menghafal, gunakan terus mushaf tersebut dan jangan berganti ke mushaf yang lainnya, agar kita bisa merekam posisi ayat yang kita hafal. Bahkan, jika perlu beri tanda dengan pensil atau pulpen di ayat yang sering kita lupa.

  2. Mulai dangan juz yang mudah

    Dr. Raghib as-Sirjani berpendapat ketika menghafal tidak harus sesuai urutan surat dalam Al-Qur’an. Beliau memilih dengan cara menghafal surat-surat yang dianggap mudah dahulu. Tujuannya ialah agar lebih mudah dan cepat dalam menghafal. Misalkan kita mulai dengan juz 30, juz 29, juz 23, dan 15. Mungkin terasa berat atau khawatir tidak sanggup untuk menghafal. Justru menurut kami, hal ini mempermudah kita karena kita sering mendengar surat yang tak asing di telinga dalam juz-juz tersebut

  3. Ulangi bacaan sebanyak mungkin

    Pastinya dalam proses menghafal, satu kali membaca sebuah ayat tidak akan cukup, karena menghafal ialah menyimpan hasil bacaan dan pendengaran. Dengan membaca berulang-ulang akan mengokokohkan hafalan kita.Misalkan dengan metode satu ayat-satu ayat. Seorang penghafal berusaha mengingat satu ayat dengan lancar. Setelah di hafal, dia bisa melanjutkan ke ayat berikutnya lalu mengulanginya dari awal ayat lagi. Hingga bisa merangkai setiap ayat pada satu halaman dengan baik

  4. Menghafal pada Waktu dan tempat yang tepat

    Waktu khusus dan tempat yang nyaman sangat diperlukan dalam menghafal. Al-Khotib al-Baghdadi berkata, “ Hafalan itu memiliki waktu yang selayaknya diperhatikan, waktu yang paling baik adalah di waktu sahur (akhir malam), pertengahan siang, kemudian awal pagi. Namun, menghafal di malam hari lebih baik daripada di waktu siang.”. Untuk masalah tempat, pilihlah tempat yang tenang, memiliki pencahayaan yang cukup, dan jauhkan hal-hal yang dapat menyibukkan anda. Bersikap tegaslah dan jangan biarkan ada seorang pun yang menyia-nyiakan waktu menghafal anda.

  5. Lancarkan dulu, baru menambah hafalan

    Misalkan kita telah berhasil menghafal satu halaman, jagalah jangan sampai ia hilang dan terbang, karena hafalan kita lebih cepat pergi dan berlalu daripada seekor unta yang terikat. Setelah betul-betul lancar, kita boleh menambah satu halaman dengan syarat halaman sebelumnya sudah diulangi minimal 5 kali. Ketika sudah mencapai satu juz, maka ulangi hafalan dengan membaca dari awal juz tersebut sampai akhir. Jika hafalan kita sudah lancar, kita bisa melanjutkan ke juz berikutnya. Jika belum lancar, maka ulangi lagi juz tersebut sampai lancar

  6. Perhatikan ayat-ayat yang mirip

    Syekh Yahya abdul fattah az-Zawawi berkata,” Dari 6000 lebih ayat Al-Qur’an, ada sekitar 2000 ayat-ayat Mutasyabihat (sama dan mirip,red).” Sangat penting bagi para penghafal untuk memperhatikan ayat-ayat mutasyabihat ini. Satu contoh dalam surat Al-Kahfi ayat 26 : ابصر به و اسمع dan Surat Maryam ayat 30 : اسمع به و ابصر . Sering kali timbul kerancuan dalam pikiran ketika membaca 2 penggalan ayat ini. Solusinya memperhatikan huruf “mim” yang ada pada kata (اسمع) dan (بهم). Huruf “mim” terdapat pada surat maryam (مرىم), maka kita mendahulukan kata (اسمع). Sementara di surat Al-Kahfi tanpa huruf “mim”, maka kita mendahulukan kata “ابصر”

  7. Menjaga hafalan

    Setelah berusaha menghafal, maka kita harus meluangkan waktu untuk mengulangi hafalan yang pernah kita hafal sebelumnya atau sering disebut muraja’ah. Dalam proses muraja’ah, kita bisa melakukan sendiri, ketika solat, muraja’ah bersama, bahkan kita bisa menghadap seorang guru untuk menyetorkan hafalan. Menurut KH.Adlan Ali, Materi muraja’ah harus lebih banyak daripada materi tahfidz, yaitu satu banding sepuluh. Artinya, kita anda mampu menyetorkan hafal baru sebanyak 2 halaman, maka harus diimbangi dengan muraja’ah 20 halaman.

Mari kita tata hati da niat kita untuk mulai menghafal kalam ilahi tersebut. Kelak di Akhirat, kita bisa mendapat pertolongan dengan hafalan kita. Dan semoga dengan menjadi hafdizul qur’an, Allah memberikan rahmat kepada kita.