Al-Quran 'bukan' Kitab yang Bermasalah

Salah satu misi yang berkembang pesat dalam Liberalisasi Islam di Indonesia saat ini adalah ‘Dekontruksi Kitab suci ‘. Dikalangan Yahudi dan Kristen sudah berkembang pesat. Mereka melakukan studi kritis terhadap Bibel (kitab suci agama Kristen) dengan metodologi Yunani. Sehingga membuat mereka melirik kepada al-Quran untuk melakukan hal yang serupa. Hampir satu abad yang lalu, para Orientalis barat bidang studi al-Quran telah bekerja keras untuk menunjukkan bahwa al-Quran adalah kitab yang bermasalah sebagaimana Bibel, akan tetapi mereka tidak berhasil.

Anehnya, keinginan tersebut banyak diikuti oleh Cendikiawan muslim saat ini. Terutama di sejumlah perguruan tinggi Islam di Indonesia. Seperti yang dikatakan oleh Taufiq Adnan Amal, dosen Ulumul-Quran di Makasar. Taufiq berusaha meyakinkan kepada orang-orang bahwa al-Qur’an saat ini bermsalah, sehingga perlu diedit lagi. Akhirnya dosen itu menulis buku yang berjudul; ‘Rekontruksi sejarah al-Quran’ yang juga meragukan keabsahan dan kesempurnaan Mushaf Utsmani. Dia mencoba meyakinkan bahwa Mushaf Utsmani masih bermasalah dan tak layak disucikan.

Penyerangan terhadap al-Quran di lingkungan perguruan inggi Islam merupakan hal yang sangat memprihatinkan. Tentu masalah ini tidak bisa dianggap sepele, sebab akan menjadi peluru gratis bagi para Orientalis untuk menyerang islam dari dalam. Sehingga mereka sekarang tinggal duduk santuy menyaksikan kader-kadernya dari kalangan umat islam sendiri yang aktif menyerang al-Quran.

Cara yang halus dan tampak akademis dalam menyerang al-Quran juga dilakukan dengan membangu studi harmeneutika di sejumlah perguruan tinggi Islam. Bahkan kajian Hermeneutika sebagai metode tafsir penngganti, dan ilmu tafsir klasik-pun sudah menjadi mata kuliah wajib di sejumlah perguruan tinggi Islam di negeri ini.

Padahal, metode ini jelas berbeda dengan ilmu tafsir, serta bersifat dekonsentrasi terhadap al-Quran dan syariat isalm. Hermeneutika adalah metode tafsir dari mitos Yunani yang kemudian dikembangkan oleh para Orientalis intuk mentafsiri Bibel yang menyebabkan Kristen terpecah belah menjdai dua kelompok; Katolik dan Protestan. Namun, sebagian orang islam mengadopsi metode tersebut untuk mentafsiri al-Quran.

Walhasil, Mushaf al-Quran yang menjadi kitab suci bagi umat islam menurut mereka merupakan kodifikasi Khalifah Utsman bin Affan. DR. Nasr Hamid Abu Zayd (mahkamah Agung Mesir) mengatakan, orang yang melakukan Hermeneutika ke dalam ilmu Islam adalah Murtad. Dan juga dia (DR.nasr) mengatakan bahwa al-Qur’an merupakan poduk budaya. Bahkan, dia berani mengatakan; malaikat, setan, Arasy, surga dan neraka hanyalah mitos belaka.

Kenapa semua itu bisa terjadi? Kenapa pemahaman mereka jauh dari islam? . Tiada lain karena metode yang digunakan untuk mentafsiri al-Quran salah, dan menyimpang dari Manhaj Salafus – Salih.
Padahal Nabi Muhammad Saw pernah bersabda: “Barang siapa yang mengenal al-Quran dengan tanpa ilmu. Maka hendaknya ia menduduki tempat duduknya di neraka”. (HR. Ibnu Jarir, at-Tirmidzi dan an-Nasa’i). dan juga mereka mngabaikan bukti-bukti ke autentitasan al-Qur’an.

Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya: “sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Quran dan pasti kami pula yang memeliharanya” (QS. Al-Hijr : 09). Maka dari itu, kita sebagai umat islam sangat perlu memperhatiakan al-Quran dengan serius. Jika al-Quran dan ilmu tafsir sudah dirusak dan dihancurkan, apalagi yang tersisa dari Islam?