Berhutang ke Bank Tidak Riba, Asal...

Berbisnis, merupakan keniscayaan untuk semua orang. Dalam surah an-Nisa’ Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.

(QS. An-Nisa’: 29)

Namun, bagaiamana jika kita tidak punya modal? Bolehkah kita meminjam uang dari bank? Bukankah di bank terdapat riba?

Sebelum lanjut, mari kita bahas satu-persatu secara rentet. Riba itu beragam. Ada riba Yad, riba Qardh, riba nasa’ dan lain sebagainya. Nah, riba yang biasanya ada di bank ialah riba qardh, yakni meminjam uang, dengan mengembalikan uang lebih.

Hal itu berlandaskan bahwa setiap qardh (hutang) yang menghasilkan manfaat maka itu riba. Karena hutang merupakan transaksi dengan maksud irfaq, bukan istirbah (meraup keuntungan). Oleh kareanya, bila ada hurang dijadikan media meraup keuntungan, itu tergolong riba.

Ulama membahas hal ini lebih jeli. Menurut ulama syafi’iyah, sebuah syarat bisa berdampak ke akad bila terjadi ketika akad. Jadi, ketika syarat pengembalian lebih terjadi setelah akad, atau sebelumnya, maka tidak ada efek kepada akadnya, yakni tidak tergolong riba.

Namun, bila masih ribet dengan penjelasan singkat ini, alangkah baiknya jika hendak membuka bisnis, tetapi tidak punya modal, bisa berhutang melalui Bank Syariah. Di sana banyak alternatif lain, selain qardh. Bisa mudharabah atau yang sering kita kenal dengan akad qiradh, ada pula musyarakah, dan banyak lagi alternatif lain.