Islam Adalah Sains, Ini Faktanya!

Ilmu sains memiliki kontribusi yang sangat besar dalam menghasilkan berbagai macam tekhnologi yang menjadikan kehidupan kita menjadi lebih mudah dan nyaman. Lain dari pada itu, sains merupakan salah satu sarana dalam mencari kebenaran yang mutlak, akan tetapi kebanyakan orang menganggapnya sebagai satu-satunya jalan menuju kebenaran yang mutlak, maka tidaklah heran apabila terjadi perselisihan antara sains dan Agama. Masalahnya sains hanya membicarakan masalah realitas objektif tentang alam dan manusia saja, sedangkan agama lebih pada itu, melainkan membicarakan tentang manusia seutuhnya (secara keseluruhan). Maka dari itu kita harus mengintegrasikan antara sains dan teologi, karena keduanya merupakan dua varian yang tak terpisahkan.

Selama ini, ilmu diklaim oleh para ilmuan Barat bahwasanya ilmu berasal dari Barat yang sekuler, maka perlulah ilmu ini dikaji secara historis seperti yang dipaparkan oleh Prof. Dr. Abdussalam bahwa orang pertama kali yang berprofesi sebagai guru adalah orang pertama di bumi yaitu nabi Adam AS yang kemudian tampak pada syith (cucu nabi Adam) sampai pada nabi Idris As, yang mana ilmu pada masa itu mengalami perkembangan yang signifikan. Thales yang disebut para ilmuan Barat sebagai awal munculnya peradaban keilmuan pertama yang berasal dari Yunani, dia sendiri belajar keilmuan dari peradaban mesir kuno yang mana gurunya adalah salah satu murid nabi Idris sendiri. dengan adanya doktrin tersebut maka konsekuensi logisnya para ulama seperti Iskandar Dzulkarnaen, Abdan Saleh, Ibn Sina, Al-farbi dsb akan hilang dari sejarah ilmu yang difahami manusia. Yang kemudian seluruh sejarah keilmuan itu sendiri disempurnakan oleh nabi Muhammad SAW dengan turunnya wahyu (Al-Qur’an) sebagai landasan dasar keilmuan yang menyempurnakan ajaran para nabi-nabi sebelumnya.

Peradaban Islam sendiri lahir dari tradisi keilmuan, maka tidak ada dikotomi antara Islam dan Sains, karena sains sendiri masuk dalam ajaran Islam yang ada dalam Al-Qur’an. Ian Barbour merupakan saintis muslim yang telah mengintegrasikan antara sains dengan Agama, yang menyatakan bahwa antara sains dan agama memiliki hubungan yang bervarian bahkan saling mendukung, dan bahwa diantara keduanya tidak nisa dipisahkan antara satu sama lainnya, akan tetapi Barbour lebih cenderung pada varian teologi alam dan teologi natural , maka dari itu dia mengamati para intelektual agama dalam upaya sintesis teologi baru dari teologi tradisional yang ada dalam teologi Kristen.

Rekonstruksi konsepsi teologis dalam Kristen terletak pada teologi proses, yaitu teologi yang memasukkan banyak wawasan filsafat proses. Hal tersebut telah dikembangkan sendiri oleh Alfred North Whitehead (seorang pendeta Inggris dan saintis di bidang matematika). Filsafat organik atau filsafat proses menurut Whitehead adalah sesuatu yang menyatukan antara Tuhan dengan Alam sebagai aspek-aspek yang bersifat melengkapi dari reaalitas yang tidak bisa dipisah antara satu dengan yang lainnya. Dengan adanya teologi proses tersebut diharapkan dapat menyatukan antara sains dan Agama, sekaligus menggantikan teologi Kristen ortodoks yang dianggap bertentangan dengan sains modern. Maka hasil dari teologi proses itu sendiri adalah antara Tuhan dan alam adalah setara.

Berbeda dengan Islam, Islam memberikan solusi yang tepat dalam melihat kesetaraan antara Tuhan dan alam, yaitu dengan mengembalikan konsep hierarki vertikal yang ada pada wawasan religious tradisional Islam. Muhammad Iqbal juga mengembangkan filsafat proses, dia melakukan proses Islamisasi filsafat evolusionis Henry Bergson. Dalam Shadrianisme menganggap filsafat proses atau yang disebut juga harakah al-jauhariyah sebagai realitas, akan tetapi ia juga meletakkan Tuhan sebagai eksistensi mutlak yang mendahului eksistensi alam.

Seiring derasnya arus globalisasi, manusia semakin dihadapkan dengan masalah-masalah yang rasionalistis, semakin orang mengetahui tentang Tuhan, alam semesta serta dirinya sendiri, maka seharusnya dia merasa semakin rendah hati dan kehilangan kesombongan, bahkan pada hakekatnya dia lebih dekat kepada Tuhan dengan segala ilmu yang ia dapatkan, dengan menunjukkan sikapnya yang rendah diri dan selalu beranggapan bahwa masih banyak kekuasaan Tuhan yang belum ia ketahui.

Maka, sikap bijak manusia ini harus muncul seiring bertambahnya ilmu pengetahuannya terhadap alam semesta, akan tetapi bukan hanya berpengetahuan luas saja, manusia harus bermoral dan beretika serta memilki karakter yang baik sehingga berani memperjuangkan kebaikkan untuk kepentingan masyarakat. 

Ismail Razi Al-Faruqi menerangkan dalam bukunya bahwa perlunya gagasan Islamisasi Ilmu pengetahuan modern, dengan cara merumuskan kembali semua ilmu itu dengan memberikan dasar dan tujuan yang konsisten dengan Islam secara globalnya, yaitu keselamatan, kesucian dan kedamaian. Dengan demikian yang dimaksud dengan Islamisasi ilmu pengetahuan yaitu mengungkapkan, menghubungkan dan menyebarluaskan sudut pandang ilmu terhadap kehidupan manusia, berlandaskan pada prinsip metodologi Tauhid sebagai kesatuan kebenaran yang mutlak.

Ilmu pengetahuan berfungsi sebagai pintu hidayah bagi seluruh manusia tentang keberadaanNya dan keesaanNya. Dengan demikian, konsekuensi logisnya bahwa seluruh kekuatan alam ini kembalinya hanya kepada Allah yang Esa.

Dalam ilmu fisika dunia dikatan bahwa kekuatan (gaya) terbagi menjadi tiga macam: elektro magnit, gaya gravitasional dan gaya nuklir. Prof.Dr. Abdussalam mampu membuktikannya bahwa ketiga gaya tersebut berawal dari satu dzat yang maha kuasa yang dilambangkan bahwa ketiga gaya tersebut mampu dikembalikan pada satu formula dasar yang satu.

Agama yang pada dasarnya berasal dari wahyu dan iman yang bercorak metafisis tidak dapat disatukan dengan mudah dengan sains yang berasal dari akal manusia serta coraknya yang empiris. Maka dalam menjawab masalah tersebut, AM Saefuddin menawarkan konsep Islamisasi kampus, jadi bukan ilmunya yang di-islamkan (karena memang telah cocok dengan ajaran Islam), akan tetapi yang lebih utama meng-islamkan cara pandang ilmuannya. Karena pada dasarnya kampuslah yang menjadi sorotan pada setiap para akademisi dalam menanamkan bibit keilmuan, karena mereka tahu kalau di dalam kampus inilah maka suasana keilmuan akan tumbuh dengan subur. Untuk itulah penting kiranya memilah kampus, serta memilih kampus terbaik. Seperti Kampus Terbaik di Medan (Universitas Terbaik di Medan).

Dengan adanya Islamisasi kampus itu sendiri maka akan melahirkan beberapa da’I, ulama dan cendekiawan muslim yang akan menyebarkan ide-ide dan metodologi sains dan teknologi yang Islami, sehingga keilmuan di bidang sains akan tumbuh subur dengan worldview Islam yang akan membawa maslahat bersama bagi seluruh umat manusia.