Mengapa Harus Membaca al-Quran dengan Tartil?

Al-quran adalah salah satu wasilah memperdekat diri kepada Allah SWT. Dengan inilah, kita dapat membaca kalam-kalam Allah SWT. yang telah diturunkan berbahasa arab. Di dalam terdapat hikmah-hikamah di balik pekerjaan dan amal kita.

Al-quran dapat menenangkan hati yang asalnya berdetak cepat menjadi tenang, dan asalnya hitam pekat menjadi terang benerang, layaknya matahari menyinari bumi dan isi nya. Tak hanya itu, al-quran juga mengandung keajaiban-keajaiban yang tak tertandingi, pahala melimpah bagi pembaca nya, yang tak seperti membaca Novel, cerpen dls.
Dalam pembacaan ayat-ayat al-quran, tak mudah seperti yang di bayangkan. Butuh pergerajan lidah yang lemas, kelancaran, kelantangan, dan kekuatan nafas, untuk menghasilkan makhorijul huruf yang tepat.

Bahkan butuh pada arahan-arahan dan petunjuk, yang di hasilkan dari guru. Sebab, guru adalah wasilah sampainya cara pembacaan kita kepada Rosulullah SAW.

Berlandasan dengan sabda nabi SAW. Yang berbunyi;

خيركم من تعلّم القرآن وعلّمه.الحديث

Artinya; ‘’paling bagusnya kalian adalah orang yang melajar Al-qur’an dan mengajarikan nya.’’Berangkat dari hadist ini,Rosulullah SAWmenjamin orang yang belajar dan mengajarkan al-quran sebagai orang yang paling bagus, seakan-akan Rosulullah SAW.memerintah kita untuk belajar dan mengajarkan al-qur’an, supaya benar tata cara yang kita gunakan sesuai dengan apa yang diajarkan Rosulullah SAW.

Mengingat firman Allah SWT. yang berbunyi;

ورتّلِ الْقرآنَ ترتيلا.الأية

Yang artinya;’’Bacalah Al-qur’an dengan tartil.’’ Yaitu membacanya denganpelan serta merenungi maknanya.

Coba kita lihat, orang-orang yang membacanya dengan fasih, seperti KH.bashori alwi. Beliau adalah ulamak krismatik yang disiplin dalam bidang al-qur’an. Dulu keti beliau menimba ilmu di pondok pesantren sidogiri, pada priode nya KH.muhammad kholil nawawy, sang guru memberinya pesan agar tidak melupakn sidogiri. Kemudian beliau meneruskan rihlah kepada KH.dimyathi di jawa tengah. Seketika beliau ingin keluar dari pondok (boyong), sang guru berpesan:

كلُّ شيْء زكاةٌ وزكاةُ العلْم التّعليمُ’’

Artinya; Setiap suatu pasti ada zakat nya (sesuatu yang harus di keluarkan), sedangkan zakatnya ilmu adalah mengajarkan nya pada orang lain.’’
Setelah pulang ke rumah nya, beliau menjalani hidupnya seperti kehidupen beliau semasa di pesantren baik dalam kegiatan, ke-istiqomahan, dls.hari demi hari beliau jalani, beliau merasa tidak enak, serasa seperti apa yang beliau rasakan di pesantren. Ternyata beliau lupa dengan pesan sang guru. Oleh karnaya, beliau mengajak adik-adik beliau untuk ngaji al-quran, karna hobi beliau adalah mengaji al-qur’an dengan tartil. Hari demi hari, mutallim bertambah banyak.

Sebab itu, beliau membuat satu ruangan untuk para mutallim mengaji. Tahun demi tahun, bertambah para mutallim, sampai ada satu wali santri yang mengajukan untuk membuat kamar bagi mutallim yang rumahnya jauh dari lokasi pengajian. Akhirnya beliau terpaksa membuat pondok atas partisipasi para wali santri dan tetangga, hingga sekarang pondok beliau bukan dari uang beliau tapi dengan bantuan mereka.