Santri Harus Menjadi Entrepreneur

Dunia teknologi dan informasi yang begitu canggih membawa perubahan drastis kepada genereasi milenial. Kita bisa mengetahui perubahan ini melalui mudahnya akses komunikasi dan informasi yang begitu cepat. Selagi dapat menguntungkan, tidak perlu dikhawatirkan. Ironisnya, jika perubahan ini membawa generasi milenial menjadi mahkluk yang pemalas dan enggan untuk berkembang.

Kita sudah terlalu asyik menikmati semua hasil karya dan penemuan generasi sebelumnya, sehingga merasa cukup bahkan mundur untuk melakukan perkembangan, pembangunan, dan peradaban yang lebih baik lagi. Inilah tantangan kita sebagai santri milenial untuk bangkit dari lembah kemunduran ini.

Di era teknologi, musuh-musuh Islam gencar memperkenalkan budaya mereka yang bertentangan dengan Islam lewat media sosial. Membuka aurat, pacaran, pemerkosaan, free sex, LGBT seakan-akan menjadi hal biasa ketika kita membuka Gogle, You Tube, Facebook, Instragram, Twitter dan lainnnya.

Sehingga generasi muslim saat ini menjadi terperdaya dengan tontonan yang merusak akal tersebut dan bahkan mulai menjauh dari budaya Islam itu sendiri. Jika generasi Islam sudah rusak, maka kehancuran akan segera terjadi walaupun tanpa senjata dan angkatan perang. Inilah yang dipesankan oleh Napoleon Bonaparter ketika dia dan pasukannya memenangkan perang salib dari kaum muslim. 

Lantas, bagaimana santri milenial menjawab tantangan zaman yang sudah rusak akibat dikuasai oleh musuh-musuh Islam, yaitu orang-orang barat? Setidaknya ada tiga hal yang harus santri milenial lakukan dalam mempersiapkan dirinya agar bisa menjadi pelaku sejarah serta pelopor kemajuan dalam memperbaiki generasi Islam. 

Pertama, santri harus memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi dan daya nalar kritis dalam menyikapi setiap persoalan yang ada. Keilmuan santri harus mampu menyesuaikan dengan keadaan zaman, sehingga tidak lagi dikotomi antara keilmuan dunia dan keilmuan akhirat. Santri harus bisa menguasai keilmuan-keilmuan yang mampu mengantarkan kemenangan di dunia dan akhirat.

Imam al-Ghazali, dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, mengutip sebuah hadis bahwa: “Sesungguhnya kalian berada pada zaman di mana fuqaha’ (ahli ilmu) banyak sedangkan sedikit qurra’ (ahli baca al-Qur’an) dan khutoba’ (ahli pidato), maka amal pada zaman ini lebih baik daripada ilmu.” Dan akan datang kepada manusia zaman di mana sedikit fuqaha’ sedangkan banyak qurra’, dan khutoba’, maka ilmu pada zaman ini lebih baik daripada amal”. Boleh jadi di era sekarang ini, memang menjadi suatu keniscayaan bahwa ilmu pengetahuan memiliki peran yang sangat penting, dan tentunya harus diimbangi juga dengan amal perbuatan. 

Kedua, persiapan yang harus santri lakukan yaitu memiliki skill entrepreneur yang mumpuni dan terampil dalam melihat peluang bisnis. Penti kiranya pula bagi santri untuk mengikuti pelatihan studi kelayakan. Karena walau pun semisal sudah memiliki ide bisnis yang mapan, tetapi belum tentu layak secara operasional dan finansial. Oleh karenanya, sanagat dianjurkan untuk mengikuti kursus studi kelayakan terpercaya ini.

Pesantren sudah sangat bagus dalam mengajari santri-santrinya berbisnis, lewat beberapa gerai diharapkan muncul santri hebat dalam dunia bisnis hingga ekonomi Islam mengalami kemajuan dan bahkan bisa mengalahkan ekonomi orang-orang barat yang mengalami perkembangan begitu pesat. Santri milenial tidak cukup hanya berbekal ilmu pengetahuan, akan tetapi harus sukses juga dalam entrepreneur.

Rasulullah SAW telah memberikan contoh langsung untuk kita teladani di mana beliau merupakan sosok pebisnis yang sukses. Kesungguhannya dalam berdagang mengantarkan Rasulullah SAW mencapai kondisi yang mandiri secara finansial di usia muda. Contoh keteladanan inilah yang harus dicontoh oleh santri hari ini, bahwa mandiri secara finansial harus dirintis dan diperjuangkan dari sejak muda. Maka sudah sepatutnya, santri tidak hanya belajar membaca kitab kemudian menghukuminya saja, lebih dari itu santri harus bisa mengaktualisasikannya.

Ketiga, persiapan yang harus dilakukan santri yaitu bahwa santri harus bisa berdiri di atas keteguhan dan keistikamahan memegang prinsip karakteristik santri. Dawuh KH. Hasani Nawawi (Sidoigiri) adalah salah satu prinsip santri yang harus dipegang sampai mati. “Berdasarkan peninjauan tindak langkahnya, adalh orang yang berpegang teguh pada al-Quran dan mengikuti sunah Rasul SAW serta teguh pendirian”.

Maraknya kenakalan remaja, kasus kriminal, dan merosotnya moral para pelajar di Indonesia yang diakibatkan kurangnya pendidikan berbasis karakter seharusnya tidak dialami oleh santri. Karena sejatinya, pesantren sebagai tempat pembelajaran bagi santri telah menerapkan pendidikan berbasis penguatan karakter, di mana tujuannya dapat melahirkan santri dengan etika luhur (strong ethic), berakhlak mulia (possesing a positive attitude), dan berintegritas (intergrity). Selanjutnya tinggal bagaimana santri setelah keluar dari pesantren bisa mengistiomahkan karakter kesantriannya di tengah godaan dan perang budaya orang-orang barat di kalangan pemuda Indonesia.